Sunday, September 09, 2012

Dagelan Pramilu


Dalam satu ruangan yang diisi oleh tokoh-tokoh peserta tes CPNS (Calon Presiden Nagari Swalayan) terdapat perbincangan menarik. Bu Meg (Ojodi Meg-meg) salah seorang tokoh sedang diwawancarai pers setempat, "Nyalonin diri bareng siapa Bu Meg?"

Kata Bu Meg setengah merajuk, "Belum ada kandidat kuat, pokonya saya emoh cawapres saya berpikir jadi capres".

Tanggapan Juragan Kapas, " Wah itu saya banget lho! Tapi itu kemarin, sekarang liat deal-dealan sama partner lama saya dulu ya..."

Tanggapan Supardi Bin Yamin, "Itu pasti bukan Saya! Kalau dari menteri sudah bisa jadi presiden ngapain turun jadi wapres

Tanggapan Sultan Sepuluh ke-212, "Mohon bersabar mbakyu, Saya masih menakar dukungan dari rakyat saya dulu."

Tanggapan Agus Durkangidah, "Pasti situ takut hukum karma ya? Ingat 'Dik Meg, Saya belum lupa luka yang kau torehkan tatkala melengserkan daku".

Tanggapan salah satu reporter yang bernama Rojali Silobahutang, "Pasti Bu Meg takut kalah pamor ya? Lha wong menterinya bisa jadi presiden apalagi wapresnya..."

Baydewaay, nama saya Rojali Silobahutang alias Roko Jarang Beli suka ngutang di mana-mana. Demikian laporan pandangan matakaki dari saya. Sekian terimakasih, dikasih sekian saya terima.

Terusannya...

Hi blog! I'm back. Just to see my self...

Halo semuanya. Lama rasanya tidak menulis sesuatu. Bahkan sampai saat ini pun belum ada rasanya tulisan yang berguna untuk orang lain. Tapi setidak nya blog ini memberi saya kesempatan untuk berekspresi.

Sekira 2009 saya tidak pernah posting tulisan lagi. Saat itu terakhir saya memasukan tulisan tentang sekolah di kawasan perkebunan teh, Puncak, Bogor. Itu merupakan tulisan saya yang dimuat di majalah pendidikan.

Sekarang saya sudah berubah haluan, tidak lagi bekerja dibidang media. Sejak awal 2010 saya bekerja di PT. Pegadaian (dahulu Perum Pegadaian). Hingga saya membuat tulisan ini saya masih bekerja di perusahaan BUMN bidan jasa keuangan tersebut.

Dan. Kerinduan untuk menulis itu muncul. Sejak lama tentunya. Namun, tak pernah direalisasikan. Kini, berbekal 'mesin tik-berlayar' dan 'kodak' saya berharap bisa membuat tulisan yang disertai gambar hasil bidikan sendiri. Doa kan saja, karena menulis adalah sumbu kebahagiaan bagi saya.

Sebelum itu semua dimulai, izinkan secuil tulisan diatas yang menjadi pembukan jalan tulisan-tulisan saya berikutnya.

Terusannya...

Wednesday, September 09, 2009

Johan, Eni dan Mada

Tahun 1956.
Semilir angin di tanah kosong membuat pria itu termangu. Lahan luas ini nantinya akan berdiri masjid megah, yang katanya diberi nama Istiqlal. "Kamu tahu apa makna Istiqlal?" tanya Johan pada Mada yang duduk di sampingnya.

Mada menggelengkan kepala. Ia bingung akan pertanyaan itu, terlebih pada sikap Johan yang belakangan tampak dingin kepadanya. Minggu lalu ia dan Johan masih sering bercanda tertawa disela-sela kesibukan mereka. Johan adalah pedagang uli bakar dan Mada adalah penjual minum.

"Johan!" panggil Mada lemah.
"Kamu marah ya sama aku?"
"Soal ceritaku kemarin?"
Johan tak langsung menjawab. Ia menatap dalam-dalam wajah Mada. Kemudia perlahan menggeleng sambil mengedarkan pandangannya.



"Lalu kenapa sikapmu dingin padaku?"
"Aku merasakan perubahan pada dirimu."
"Johan, aku tak mengerti jika kau bersikap begini karena ceritaku kemarin."
"Apa alasanmu memusuhiku, kita kan tidak ada ikatan apa-apa," sambung Mada.

"Cukup Mada, aku tak marah kepadamu. Sedikitpun aku tak bisa marah padamu!"
"Bukan keputusanmu untuk menikah yang membuatku merana seperti ini."
"Aku hanya sedih, belum dapat mewujudkan kebahagiaan Eni seperti kebahagiaan yang sekarang kau dapatkan!"

Tahun 1956.
Siang hari berlalu. Angin mulai sejuk menghempas Johan dan Mada. Mereka kembali ke tempat masing-masing tanpa sepatah katapun.

Terusannya...

Tuesday, March 24, 2009

Kami mau sekolah tapi nggak ada gurunya!

Rudi M S
SDN Cikoneng, Desa Tugu Utara, Cisarua

Merintis sekolah sebelumnya tak pernah saya bayangkan. Bahkan menjadi seorang gurupun tak melintas dibenak saya. Namun suatu keadaan yang tak disengaja membuat saya memutuskan untuk mengajar anak-anak agar masa depan mereka cerah. Tak peduli soal upah, yang penting anak-anak dikawasan perkebunan teh bisa sekolah. Soal kelengkapan belajar saya yakin banyak orang yang mau membantu. Ini hanya soal siapa yang memulai.

Sebelum datang ke kawasan perkebunan teh saya bekerja serabutan di kontraktor daerah Cipanas. Kejadian ini bermula ketika saya sedang mengunjungi teman di kawasan perkebunan teh di Rawa Gede, Cisarua pada 1983 akhir. Di sana saya melihat anak-anak yang kerjanya hanya main sepanjang hari. Saya sedih dan bertanya-tanya mau jadi apa mereka nantinya kalau tidak sekolah. Saya sendiri merasakan susahnya hidup menjadi orang tak berpendidikan.

Dalam suatu kesempatan saya hampiri anak-anak yang sedang bermain. Saya tanya apakah mereka mau sekolah. Jawaban yang tak disangka-sangka terlontar dari mereka, dan membuat saya tergugah. “Mau Pak tapi tidak ada gurunya!” ujar mereka polos. Mulai saat itu saya berinisiatif untuk menjadi guru di sana.

Kekhawatiran para orang tua juga ada pada waktu itu, “Pak tidak usah sekolah nanti siapa yang gaji gurunya?” Saya katakan pada masyarakat bahwa mereka tidak perlu khawatir soal biaya sekolah, yang penting mereka mau anaknya sekolah.

Praktis sejak saat itu saya berhenti kerja serabutan dan fokus mengajar. Mulailah pengabdian saya sebagai guru. Karena tidak ada pungutan biaya, uang untuk keperluan sehari-hari saya dapatkan dengan menjadi juru parkir. Bantuan dana dan kelengkapan kegiatan belajar mengajar saya cari hingga ke Jakarta ke kenalan-kenalan saya.

Bantuan dari kepala desa Tugu Utara, Cisarua, bantuan dari perorangan atau keluarga besar, bantuan pemuda-pemuda Karang Taruna dari Jakarta, termasuk dari lembaga pendidikan swasta dan perusahaan nasional maupun internasional. Semuanya memberikan bantuan praktis berupa alat tulis, tas, jas hujan untuk siswa, dan semuanya diberikan secara langsung kepada siswa.

Menjadi sekolah yang diakui pemerintah
Awalnya pada 1984 sekolah rintisan yang masih ‘liar’ ini berlokasi di daerah Rawa Gede, sekitar satu kilometer dari Cikoneng. Ruang belajar kami saat itu ialah sebuah saung beratapkan seng yang digunakan untuk penimbangan daun teh. Dengan menggelar tikar dan plastik sebagai alas duduk, sekolah perdana kami resmi dimulai.

Kegiatan belajar mengajar dilakukan dari pagi sekitar pukul 9-10 pagi sampai selesai. Gurunya saya seorang dan siswanya pada saat itu hingga 40-an anak. Waktu itu kegiatan belajar mengajar masih dilakukan atas dasar inisiatif saja, belum terkoordinasi dengan sekolah atau lembaga pendidikan terkait.

Kemudian pada tahun 1984 itu saya menghubungi kepala desa Tugu Utara yaitu alm. H. Suherman agar menjadikan sekolah kami sekolah resmi dan mengacu pada kurikulum pemerintah. Tanggapan positif dari kepala desa yaitu dengan mengajak kepala sekolah dari SD terdekat yaitu SDN Ciburial untuk datang ke Rawa Gede.

Pada saat itu kepala sekolah SDN Ciburial H. Edy Setiadi beserta Kepala Desa Tugu Utara datang meninjau ketika kami sedang melangsungkan kegiatan belajar mengajar. Setelah melihat keadaan tersebut mereka tersentuh dan memberikan bantuan pendidikan berupa alat tulis, kursi dan meja untuk belajar, termasuk sekat bambu untuk membuat saung tempat kami belajar menjadi lebih tertutup.

Sekolah saung kami pun akhirnya dijadikan sekolah resmi dengan menginduk ke SDN Ciburial dan diberi status sekolah jauh SDN Ciburial. Siswanya dari daerah sekitar Rawa Gede seperti Cikoneng, dan Cibulao. Jarak dengan SD terdekat yaitu SDN Ciburial lebih dari 20 kilometer dengan jalan terjal khas pegunungan.

Akhirnya kami punya gedung sekolah
Awal mulanya sekolah kami mulai mendapat bantuan dari luar Cisarua terjadi sekitar 1988-1989. Ketika itu serombongan keluarga yang sedang berjalan-jalan menuju air terjun, melihat kami yang sedang belajar dari atas bukit. Rombongan ini adalah keluarga besar H. Jamril dari Jakarta yang kemudian menyerahkan bantuan uang tunai sebesar Rp 2,5 juta. Uang bantuan inilah yang digunakan untuk membangun gedung sekolah pertama kami yang terdiri dari dua ruang kelas dan satu ruang kantor merangkap gudang.

Masing-masing ruang digunakan untuk tiga kelas yaitu kelas 1, 2, dan 3 di ruang pertama. Sisanya kelas 4, 5, dan 6 di ruang kedua. Pembagian kelas di tiap ruang hanya berdasarkan barisan tempat duduk saja. Dan saya masih menjadi satu-satunya pengajar di sekolah ini.

Ketika gedung sekolah berdiri di Rawa Gede, pihak perkebunan teh juga memberikan bantuan honor untuk mengajar sebesar Rp 20.000 tiap bulannya. Sumber pemasukan lainnya saya dapatkan dengan menjadi juru parkir di Jalan Raya Puncak serta menjaga toilet umum setiap hari Sabtu dan Minggu. Senin pagi saya pulang untuk kembali mengajar hingga hari Sabtu. Begitu rutinitas yang saya lakukan setiap harinya.

Ada kejadian menarik pada sekitar tahun 1996 ketika saya sedang menjadi juru parkir sekaligus membantu membakar jagung. Waktu itu Minggu malam datang rombongan keluarga yang memesan jagung bakar, dan berbincang-bincang dengan saya soal kesibukan saya sehari-hari. Saya katakan selain menjadi juru parkir saya juga seorang guru sekolah dasar di Rawa Gede. Obrolan berlanjut seputar kegiatan mengajar dan sekolah kami tanpa saya tahu siapa lawan bicara saya.

Beberapa minggu kemudian pada hari kerja bakti sekolah datang rombongan Kepala Sekolah dari SD se-Cisarua. Mulanya saya berpikir kalau kedatangan mereka hanya ingin meninjau kegiatan di sekolah kami. Namun tidak diduga, salah seorang dari rombongan menghampiri saya dan bertanya, “Pak Rudi mau tidak saya buatkan sekolah? Tetapi letaknya harus dipindah ke Cikoneng agar menjangkau anak-anak dari Cibulao, Cikoneng, dan Rawa Gede.” Tentu saja ini bukan pertanyaan sulit, dan segera saya jawab mau dan silahkan dipindah ke Cikoneng.

Lalu orang tersebut memperkenalkan diri bahwa ia adalah orang yang pernah berbincang dengan saya di tempat jagung bakar. Dan yang membuat saya lebih terkejut adalah beliau ternyata Udin Syamsudin Camat Cisarua yang belum lama menjabat. “Kapan-kapan kita makan jagung bakar lagi ya,” candanya.

Maka berdirilah sekolah dasar di Cikoneng dengan 3 ruang kelas ditambah ruang kantor. Sekolah ini pun lengkap dengan perangkatnya yaitu guru tambahan serta seorang kepala sekolah. Mulai sejak itu sekolah kami tidak lagi menginduk ke SDN Ciburial namun berdiri sendiri dengan nama SDN Cikoneng.

Pada tahun 2004-2005 kami juga mendapat rehab total dari pemerintah untuk bangunan sekolah. Sekolah kami juga jadi semakin bagus dengan lantai keramik termasuk terasnya, serta sekat antar ruangan sudah menggunakan tembok bata, bukan lagi sekat bambu. Lalu pada 2007 perusahaan perkebunan teh Sumber Sari Bumi Pakuan juga membangunkan gedung tambahan yaitu 2 ruang kelas serta ruang perustakaan.

Pentingnya pendidikan masih terabaikan
Bahagia juga melihat perkembangan yang dilakukan sekolah kami. Dari mulai belajar di saung terbuka hingga menjadi sekolah dengan status mandiri. Tak pernah saya lupakan jasa semua pihak yang terlibat dalam kemajuan sekolah ini. Tanpa bantuan mereka mungkin anak-anak di kawasan perkebunan teh ini tak ada yang semangat sekolah.

Sebagai guru tidak ada yang lebih menyenangkan selain melihat siswa-siswa saya lulus sekolah dengan baik dan melanjutkan sekolah hingga sukses. Dan syukur sekali tidak ada siswa kami yang tidak lulus ujian akhir nasional. Namun begitu saya sedih sekali kalau ada siswa kami yang berhenti sekolah atau tidak melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya.

Pernah suatu saat ada siswa saya berhenti sekolah hanya beberapa hari menjelang ujian nasional. Padahal hanya tinggal ujian sekali lagi siswa tersebut lulus SD. Setelah saya hubungi orangtuanya mereka menjawab, lebih baik anaknya mencari uang dengan membantu orangtuanya memetik teh. “Biarlah Pak anak juga anak saya. Saya yang kasih makan, saya yang rawat, terserah saya mau jadi apa anak saya ini!”

Mendengar jawaban seperti itu dari orangtua siswa hati saya langsung menangis. Namun saya tidak bisa berbuat apa-apa karena di mata mereka, mempertahankan hidup masih jauh lebih penting ketimbang mengenyam pendidikan. (fajri)

Terusannya...

Tuesday, February 03, 2009

dik...

dik... maafkan aku kalo suatu hari nanti pulang terlambat
kamu tahu kan kalau setiap hari aku selalu bertemu pembunuh
mereka berjajar di sepanjang rute yang aku lalui,
menunggu untuk dalam sekejap mencengkram lalu membantingmu hingga tewas


dik... maafkan aku kalau membuatmu khawatir setiap hari
kamu pasti tahu resiko yang aku hadapi
dan aku pasti akan selalu berhati-hati
agar bisa kembali padamu
melepas penat di dadamu
meringkuk tak berdaya diujung senyummu


dik...jalanan di jakarta memang pembunuh
tapi ia tak akan dapat menghabisi nyawa cintaku...

Terusannya...

Friday, January 02, 2009

----

Ya ya selamat tahun baru!!!




Terusannya...

Suara dari Rumah Tuhan

Udara yang bergerak menyapa wajah-wajah lelah yang berbaring di antara tiang-tiang masjid. Sinar mentari tersaput gulungan awan menghangatkan memeluk tubuh kami.

Ashar belum lagi tiba siang baru beranjak pukul dua. Di sini kami beristirahat di tengah perjuangan hidup. Suara deru mesin berlalu lalang, dengan lembut mengantar kami ke alam mimpi.

Biarkan kami lelap sejenak hingga adzan membangunkan kami. Izinkan kami 'tuk sekadar melepas lelah di rumah-Mu.

Kalibata Tengah, 30 Desember 2008

Terusannya...

Dagelan Pramilu

Dalam satu ruangan yang diisi oleh tokoh-tokoh peserta tes CPNS (Calon Presiden Nagari Swalayan) terdapat perbincangan menarik. Bu Meg (Ojodi Meg-meg) salah seorang tokoh sedang diwawancarai pers setempat, "Nyalonin diri bareng siapa Bu Meg?"

Kata Bu Meg setengah merajuk, "Belum ada kandidat kuat, pokonya saya emoh cawapres saya berpikir jadi capres".

Tanggapan Juragan Kapas, " Wah itu saya banget lho! Tapi itu kemarin, sekarang liat deal-dealan sama partner lama saya dulu ya..."

Tanggapan Supardi Bin Yamin, "Itu pasti bukan Saya! Kalau dari menteri sudah bisa jadi presiden ngapain turun jadi wapres

Tanggapan Sultan Sepuluh ke-212, "Mohon bersabar mbakyu, Saya masih menakar dukungan dari rakyat saya dulu."

Tanggapan Agus Durkangidah, "Pasti situ takut hukum karma ya? Ingat 'Dik Meg, Saya belum lupa luka yang kau torehkan tatkala melengserkan daku".

Tanggapan salah satu reporter yang bernama Rojali Silobahutang, "Pasti Bu Meg takut kalah pamor ya? Lha wong menterinya bisa jadi presiden apalagi wapresnya..."

Baydewaay, nama saya Rojali Silobahutang alias Roko Jarang Beli suka ngutang di mana-mana. Demikian laporan pandangan matakaki dari saya. Sekian terimakasih, dikasih sekian saya terima.


Terusannya...

Thursday, October 23, 2008

Jangan Muna dah poy!!

Hmhh ceritanya waktu itu gua lagi bokek. emang paling sedih kalo bokek. terpaksa gua bongkar tabungan yang gak seberapa. tujuannya buat bikin surat keterangan sehat dari dokter puskesmas. sayang, gua kesiangan n gagal bikin surat sehat. gua dateng jam sebelas sedangkan jadwal bikin surat sehat sampe jam sepuluh. so, gua putuskan untuk pulang aja.

naek mikrolet sampe depan binus, gua turun untuk beli koran. pas di depan tukang koran ada ibu2 sekitar umur 40an nyamperin gua. "Bang bagi duit dong bakal beli nasi!" suaranya lantang bak preman malak. Begitu gua nengok, gua gak ngeliat raut orang susah n kelaparan. kebetulan duit receh gua tinggal seribu n gua ksh aja seceng.

bukannya pergi malah dia minta tambah."Bang, mane cukup seribu beli nasi, tambain dong bang!" sepenuhnya memaksa. gua yang lagi ruwet soal kerjaan langsung aja bilang, "minta ama yang laen lagi dah bu!". Lagian kalo mao banyak ya kerja bu! eh, tu ibu ngejawab enakan minta dari pada kerja. terus gua bilang, ya udah kalo minta terima aja seadanya.

si ibu pergi. meninggalkan gua sambil ngomong, ngasih seribu doangan pake ceramah segala, baaang baang!! trus dia naek mikrolet, yang gua yakin cuma untuk minta2 lagi di dalem mikrolet.

dalam hati gua, "sialan bukannya terimakasih malah nggrutu. kalo mao banyak kerja bu! kaya gua ni bokek tapi kaga minta2, gua nyari kerja bu. masih mending sehat gitu bukannya bersyukur....

pas kata-kata bersyukur keluar dari mulut hati gua azan johor berkumandang. Allahuakbar-Allahuakbar...
Trus gua inget, apa hari ini gua udah bersyukur? Tadi subuh aja gua bablas gak sholat, padahal dah dibangunin sama belahan jiwa lewat sms. Trus sekarang gua pilih sholat, apa pulang dulu baru sholat, apa liat2 koran dulu ya?

Seiring berpikir gua milih liat koran dulu baru sholat, terus pulang, terus lupa solat. gua maen gem n baca kiran tau2 ashar. yah bablas lagi...

Bener kata ibu2 tadi, ngasih seribu aja ceramah. lupa bersyukur aja, eh pake nyeramahin orang untuk bersyukur (meski dalem hati)

Gua cm bisa bilang dalem hati lagi,
Ah, Jangan muna dah poy!!



Terusannya...

Sabtu Kelabu-Sendu-Gulana

Menurut Detik.com ujian online baru kali ini diadakan dalam seleksi cpns, dan depperin yang pertama melakukannya. Luar biasa, konon menurut detik pula, depperin dapat menghemat biaya dengan mengadakan ujian lewat dunia maya. Akan tetapi, ternyata ujian online hanya menambah tahapan ujian saja. Karena, masih menurut depperin, mereka tetap mengadakan ujian seperti biasa tes2 cpns lainnya untuk mengkonfirmasi kemampuan peserta ujian online.

Nah....
tahap pendaftaran memerlukan konfirmasi yg dikirim lewat imel. sialnya, imel tsb masuknya ke spam. untungnya, imel tsb kebaca ma gua. buntungnya, jadwal ujian yang dikirim lewat imel juga masuk ke spam. parahnya, gua apus spam-nya.

Jadi...
jadwal ujian dari jam 10 s/d jam 1 siang. dan gua nyoba login ujian dari jam 10. pas nyoba jam 11 akhirnya masuk. dan ujian pun di depan mata.

Lalu...
ujian berlangsung selama 25 menit dimana tiap soalnya tidak boleh dikerjakan lebih dari satu menit. soal keluar satu persatu, yang artinya tidak ada subsidi silang antara waktu pengerjaan untuk soal yg mudah untuk soal yang sulit.

Kelabu...
soal pertama gua baca berulang kali, dan ketika waktu tinggal 1 detik (gua maw memanfaatkan tiap detik yang tersedia) gua pilih jawaban dan mengkonfirm. ndableknya, waktu terus berjalan ketika sedang loading page. hasilnya, soal pertama gagal terjawab.

untuk menyiasati loading page gua ngerjain soal dengan menyisakan 5 detik, lagi2 gua dianggap tidak menjawab karena proses loading page yg makan waktu. berikutnya soal no.3 sampai no.23 gua jawab dengan menyisakan waktu kurang lebih 15 detik. jadi tiap soalnya dialokasikan waktu sekitar 45 detik.

Kelabu...
soal no.24 juga sama, gua kerjain dan mengkonfirm untuk mendapatkan soal terakhir. tapi yang terjadi soal no.25 tak kunjung keluar. sebabnya (pak Jaja Udjaja gak suka kata 'pasalnya'), waktu ternyata habis. lalu gmn ceritanya ujian jam 11 lewat 11, yg memakan waktu 25 menit bisa sampai jam 12 lewat? ternyata loading page per soal (kasus gua) bisa ngabisin wktu sekitar 4 s/d 7 menit. dan soal terakhir, lebih dari 15 menit.

dan ketika gua merifres page antara soal 24 dan soal 25 yg tak kunjung tiba, page yg keluar adalah page terakir yg kurang lebih berisi, 'pengumuman bisa anda lihat di website kami'.

Gulana...
yah jadi aja gua nulis2 gak jelas di mp. kalo boleh ngutip dialog sandra dewi (doyanan kupl) pada tora sudiro dalam kuiki espres, gua pengen ngomong, "Yah, sedih deh..."

Gumbrang gambreng pating keleleran. Prang Kompryang pade bececeran. Plak gedebuk otak copot ngambrak. Selesai dah


Terusannya...

Monday, October 08, 2007

kaleng kecil Juki

Suatu siang yang panas. di kolong jalan layang dekat persimpangan jalan kawan Juki bersandar pada pecahan pot bunga. tangannya memegang kaleng kecil yang ia sembunyikan di balik bajunya. tutupnya terbuka dan mengeluarkan aroma kahyangan. lurus matanya menatap gelap sudut kota. konsentrasi ia curahkan untuk mengisap sedalam-dalamnya aroma yang keluar dari kaleng kecil itu. sesaat ia melupakan kerasnya dunia. sesaat ia sudah terbang menuju angkasa.

kawan Juki berusia 12 tahun. cita-citanya seperti kebanyakan bocah lainnya yaitu menjadi seorang pilot. hatinya keras seperti tiang beton penyangga jalan layang. jika ia menginginkan sesuatu maka harus terwujud. namun ia juga tahu batas kemampuannya. kalau ia bilang bisa, maka bisa.

sekarang ia tidak lagi berada di kolong jalan layang. ia justru sedang melayang melihat deretan kendaraan yang tampak kecil dari tempatnya melihat.ia memutuskan untuk melayang lebih tinggi. sekali lagi ia tarik dalam-dalam aroma dari kaleng kecil. maka ia melayang lebih tinggi.

deretan kendaraan tampak seperti urat nadi yang menonjol keluar di lengan kawan Juki. lekukan jalan seperti ular yang merayap diam-diam. kawan Juki memutuskan untuk melayang lebih tinggi. kali ini ia kesusahan menghirup aroma kahyangan karena nafasnya tersengal. mungkin udara di atas semakin menipis.

kawan Juki kini sudah berada di luar orbit. ia bisa melihat bumi yang membiru. senyum sumringah tersungging di wajahnya. mendadak ia merasa kesepian. bumi yang warnanya tampak seperti kelereng kini dikelilingi gelap hitam pekat.

kini matanya hanya bisa menatap hitam. sekelilingnya hanya kekosongan. ia semakin kesepian. nafasnya tercekat. tangan kanannya mencengkeram lehernya. tangan kirinya coba menggapai hampa. ia makin kehilangan kesadaran. ia mengutuk dirinya yang menginginkan terbang setinggi-tingginya. kini ia menyesal. namun ia tak bisa menyalahkan siapa-siapa, lebih tepatnya ia tak tahu harus menyalahkan siapa.

kawan Juki yang terbang terlalu tinggi kini tak tahu bagaimana kembali ke bumi. aroma dari kaleng kecil mengantarnya melayang terlalu tinggi. sementara di bumi, di kolong jalan layang dekat persimpangan teronggok jasad bocah kecil. mungkin itu mayat bocah 12 tahun. tubuhnya dekil, bajunya lusuh. badannya masih hangat, mungkin baru beberapa menit yang lalu ia mati. tangan kanannya mencengkeram lehernya hingga memerah, sementara tangan kirinya menggenggam kaleng kecil.

Terusannya...

Wednesday, September 12, 2007

mulai mengejar deadline

hari jumat dulu sekali gua lulus, hari jumat bulan lalu gua wisuda. tepat hari jumat itu ada tawaran mengisi nganggur. yak kerja jadi jurnalis, sebuah majalah lifestyle. gua sih belum terbiasa tapi panggilan hati menguatkan tekad. sekarang gua sibuk dikejar dan mengejar deadline. ada kawan jurnalis yang bilang, di lapangan Tuhan-mu adalah deadline. wehehehe, berlebihan sih. tapi ya begitu lah situasinya. jadi lagi-lagi blog ini sementara masih hanya berisi curhatan. kapan ya ngumpulin data pelosok2 jakarta. ah, doakan saja lah.

Terusannya...

Arahku

Arah, semua arah menatapku
Bukan aku yang berjalan mengikuti arah
Hanya satu-persatu dan silih berganti
Mendatangiku, menyentuhku, menyeretku
Aku semakin tak terarah
Aku tak berpola
Diam dan pasrah kemana arah membawa
Bahkan aku tak tahu
Gerangan siapa yang sedang menuntunku
Namun aku tahu satu rahasia
Setelah berjalan-jalan dibawa arah
Sejatinya aku hanya diam di tempat
Berdiri di satu titik kemana aku
selalu kembali padanya

Terusannya...

Friday, August 03, 2007

Niatan buat blogg ini

Salam kawan! rencananya blogg ini kedepannya tidak hanya menjadi tempat muntahan isi hati saja. saya berencana menampilkan informasi-informasi mengenai lokasi-lokasi di Jakarta yang bisa dikunjungi untuk rekreasi, berolahraga, menambah pengetahuan, dan lain-lain. saat ini saya sedang melakukan survei untuk mendalami lokasi yang akan saya tampilkan nantinya. berhubung saya tinggal di jakarta barat, mungkin lokasi di jakarta barat sekitarnya akan saya prioritaskan. mohon dukungan agar blogg ini bisa lebih bermanfaat. terima kasih.

Terusannya...

Saturday, July 21, 2007

hanya butuh 2 x 30 menit

kuliah sejak 2001 di fakultas ilmu komunikasi universitas padjadjaran. tahun pertama belum punya jurusan. semester 4, akhirnya saya pilih jurusan Jurnalistik. empat tahun berikutnya saya habiskan untuk menyelesaikan kuliah yang berhubungan dengan dunia kewartawanan. jobtraining sebagai salah satu syarat untuk lulus saya lewati di indopos (jawapos grup) selama satu bulan di awal tahun 2005, jobtraining kedua saya lewati di trans tv program 'cerita pagi' selama satu bulan pada awal tahun 2006. dan satu tahun lamanya saya mengerjakan skripsi. Susah? bukan itu masalahnya yang membuat pengerjaan skripsi begitu lama, tapi karena kesungguhan yang kurang.
dipertengahan pengerjaan skripsi , dosen pembimbing utama saya dipanggil yang Mahakuasa. ganti dosen, penyesuaian sedikit akhirnys kelar skripsi tersebut. seperti yang tertera di judul tulisan. hanya butuh 2 x 30 menit. maksutnya untuk lulus butuh dua kali sidang. pertama sidang komprehensif selama 30 menit, lulus dengan hasil biasa saja. sidang kedua yaitu sidang skripsi dilakukan beberapa hari kemudian. sidang ini juga butuh 30 menit untuk dilalui, dan hasilnya lulus dengan predikat sangat memuaskan. bukan predikat sih yang saya cari. tapi kerjaan. 2 x 30 menit saya lulus, dan entah berapa lama saya menganggur. mudah-mudahan hanya sekejap mata. amin. wehehehehehehe

Terusannya...

akhirnya LULUS juga

kawan, mungkin sudah lama sekali saya tidak mengupdate blogg ini. maklum sedang ada kesibukan yang menyita waktu sehingga tak sempat, bahkan sekedar membuka blogg ini.
awalnya blogg ini dibuat pada masa pengerjaan skripsi saya. saat-saat menjelang sidang itulah saya tak sempat mengupdate. namun kini masa itu telah lewat. sidang sudah dilalui dengan baik.

LULUS EUY!!!! skripsi dengan judul Representasi Presiden SBY melalui Karikatur pada Sampul Majalah TEMPO telah mengantarkan saya meraih gelar sarjana. S.IKom alias sarjana ilmu komunikasi. Gelar ini saya raih setelah enam tahun kuliah sejak 2001. lama juga sih.


sekarang blogg ini akan mendapat perhatian yang lebih layak. hahaha. Tunggu tulisan-tulisan saya berikutnya. HAhahahahaha....

Terusannya...

Wednesday, May 16, 2007

Seorang Aku

Lihatlah kawan, pemuda itu bicaranya sulit ku mengerti
Bahasanya samar namun mengandung ketulusan
Mungkin dia seorang penyair

Lihatlah kawan, pemuda itu bicaranya sulit ku mengerti
Bahasanya samar dan mengandung kedustaan
Mungkin dia seorang politikus

Lihatlah kawan, pemuda itu bicaranya mudah ku mengerti
Bahasanya jelas namun tak ada isi hatinya
Mungkin dia seorang jurubicara

Lihatlah kawan, pemuda itu bicaranya mudah ku mengerti
Bahasanya jelas namun samar isi hatinya
Mungkin dia seorang jurnalis

Lihat kawan, pemuda itu tak berbicara
Bahasanya hanya diam, hatinya misteri
Mungkin dia seorang aku

12 Mei ’07 (18:11)

Terusannya...

Dua puluh empat

Dua puluh empat detik sebelumnya terdengar gemuruh sorak sorai makhluk pelupa

“Tanggal ini genap bertahun-tahun umurmu!” ujar salah seorangnya

“Ya, maka katakanlahlah beribu ucapan selamat padaku!“ ungkap si aku

“Maka muntahkanlah beribu pujian tentang ku,

karena hari ini aku lah raja dunia!” teriaknya merasa paling bahagia


Dua puluh empat jam sebelumnya juga terdengar gemuruh

Kali ini makhluk tuhan yang tak pernah mendosa

“Apa benar besok adalah saatnya?” ujar salah satunya

“Ya Tuhan sendiri yang mengatakannya padaku,” jawab sebelahnya

“Sungguh singkat!”

“Ya, hanya sehari lagi.”

“Maka waktunya semakin berkurang”


Dua puluh empat hari sebelumnya terdengar bisik rendah makhluk pelupa

“Esok mau apa?” tanya salah seorangnya

“Aku mau dunia,“ si aku menjawab

“Bukankah kau meninggalkan ladang abadi menuju dunia?”

“Bukankah telah sampai kau pada dunia?”

“Ya, kini aku kan menggenggam dunia sebagai bekal kembali pada keabadian”


Dua puluh empat tahun sebelumnya di sebuah ruangan sederhana

Terlihat sosok gerbang dunia yang rupawan sedang bersiap diri

Ketika tiba saatnya beliau mengantar makhluk pelupa itu ke dunia,

maka saat itu pula sang dewi rupawan berada di batas antara keabadian dan kefanaan

Pada saatnya makhluk itu tiba di dunia, saat itu rona bahagia sang dewi terpancar

Sesosok asa telah lahir

Sebuah lambang cinta telah menjelma


Namun, sama seperti dewi-dewi rupawan lainnya

Kelak tanggal datangnya makhluk pelupa hanya tentang makhluk pelup

Tahun pertama, kesepuluh, ke-entah, sampai matipun

Tak ada yang sekedar merenungi sang dewi yang menjadi gerbang hidupnya

Bertahun-tahun kemudian, kita makhluk pelupa, hanya ingat kita makhluk pelupa

Hanya merasa bahagia telah sampai di dunia

Merasa paling soleh dalam menggapai bekal keabadian

Semua dari kita lupa bahwa kehadiran kita merupakan pertaruhan hidup sang dewi


Selayaknyalah genapan tahun menjadi tanda terimakasih pada sang dewi

Selayaknyalah genapan tahun menjadi simbol perbatasan antara keabadian dan kefanaan

Maka kubuang semua ucapan selamat, kulumat mentah lalu kumuntahkan

Karena rasa terimakasihku hendak menerjang mulut

sekedar ‘tuk berterimakasih pada sang dewi

’untuk hariku kelak’

12Mei’07 (17:48)

Terusannya...

Saturday, May 05, 2007

semoga cepat lulus

doakan saya semoga sepat lulus.... saya bosan di jatinangor
ga punya duit, kere......
ga bisa nabung, ga bisa ngelamar si eneng.... wahahahaha... hiks...
ga bisa gemuk.... hiyaaa.....

btw gua fans-nya ho-man-co (holahoop, macan, disco; nonton indonesian idol edisi wildcard!)
ho-man-co!! idol!!
ho-man-co!! idol!!
ho-man-co!! idol!!

wahahaahahaha.....

Terusannya...